YOGYA (KRjogja.com) - Murid SDN Surokarsan 2 Yogyakarta mengenal Gibran Pamungkas sebagai pantomim cilik kebanggaan sekolah tersebut. Beberapa kali berkesempatan menjajal kemampuannya dalam berbagai lomba seni yang diselenggarakan di Kota Yogyakarta.
Namun, pada peringatan Hari Kartini 2015, yang digelar di sekolah tersebut pada Selasa (21/04/2015), Gibran ternyata tak unjuk kebolehan dalam olah gerak pantomime. Ia memilih menjajal kemampuan dalam lomba macapat.
Dengan penuh percaya diri Gibran maju ke depan kelas. Di depan kawan-kawannya, sesama peserta lomba macapat, dan siswa lain yang menonton lomba sambil berjubel di pintu kelas, Gibran lalu melantunkan Gambuh, tembang wajib dalam lomba macapat. Namun, apa yang terjadi?
Baru selarik ia melantunkan tembang, kawan-kawannya sudah menyambutnya dengan gelak tawa. Rupanya ada yang tak biasa dalam diri Gibran. Siswa kelas 5 ini sedang mengalami perubahan suara, dari suara anak menuju suara remaja.
Inilah yang membuat cengkok dan titi laras yang dilantunkan terdengar aneh di telinga kawan-kawannya. Hal serupa juga terjadi ketika ia melantunkan tembang dolanan Gundhul-gundhul Pacul.
“Isin aku,” kata Gibran saat menyudahi penampilannya. Wajahnya ditutupi dengan lembaran kertas bertuliskan tembang macapat yang dilantunkan.
“Ya, itu tadi penampilan kawan kalian, Gibran, yang nembang dengan suara nge-rock,” kata seorang ibu guru saat memberikan ulasan tentang suara serak milik Gibran.
Lomba macapat adalah salah satu lomba yang digelar di SDN Surokarsan 2 Yogyakarta. Sekolah ini memang punya cara unik untuk memaknai Hari Kartini. Selain macapat, mereka juga menggelar lomba merangkai bunga, mewiru kain, pidato bahasa Jawa dan lomba keluwesan. Semua lomba diikuti oleh siswa-siswi dari kelas 1 sampai dengan 6. (Ida)
Tomi Sujatmiko | Rabu, 22 April 2015 Repro: krjogja.com